Alam Pikiran Pemimpin (2)

Oleh: Robby Maulana Zulkarnaen

“Bacalah   dengan   (menyebut)   nama   Tuhan-mu   yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhan-mulah yang Maha Pemurah yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.”

Al-Alaq

Inilah ayat pertama yang diwahyukan Allah Swt. melalui malaikat Jibril kepada Nabiyullah Muhammad saw. ketika berada di Gua Hiro. Allah Swt. dengan segala keagungannya menciptakan manusia dari segumpal darah yang tidak bisa diuraikan kejadiannya oleh pemikiran manusia, dengan segala kemurahannya jugalah Allah Swt. mengajarkan berbagai ilmu kepada kita, sehingga kini kita bisa menikmati kehidupan ini.

Ilmu dengan segala keluasannya, sementara akal dengan segala keterbatasannya, telah menjadikan dinamika keanekaragaman manusia dalam menjalani setiap kehidupannya. Akan tetapi meskipun pada hakekatnya bahwa setiap manusia diciptakan sebaik-baik bentuk dengan segala pengetahuan yang dimilikinya juga bahwa setiap manusia adalah kholifah/pemimpin, tentunya hanya orang-orang yang berilmulah yang pantas untuk menjadi pemimpin.

“Katakanlah apakah sama orang yang buta dan orang yang melihat? Tidakah mereka berpikir?”

Al-An’am : 50

Seandainya ilmu adalah lautan yang dijadikan tinta, lalu manusia menuliskannya, ilmu Allah tidak akan tercatat meskipun lautan itu kering. Filsafat akal mengatakan bahwa kelebihan akal adalah keterbatasannya. Tetapi paling tidak menjadi seorang pemimpin efektif didasarkan atas asumsi bahwa para pemimpin adalah orang-orang yang berpengetahuan luas bukan sekedar mengandalkan bakat dari lahir, tetapi dia lebih banyak dibentuk oleh diri sendiri, baik secara pengalaman atau hasil dari proses pembelajarannya serta kemampuanya untuk mengekspresikan potensi intelektual dirinya.

Legok tapak genteng kadek!

Syaidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Tiada kekayaan lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan. Dan tiada warisan lebih baik daripada pendidikan.” Karenanya seorang pemimpin harus mempunyai spesialisasi dalam bidang keilmuan tertentu tetapi ia juga mempunyai wawasan yang luas tentang keilmuan yang berbeda dan selalu berupaya untuk terus menambah wawasannya.

Pikirannya selalu terbuka untuk menerima perbedaan pendapat tentang berbagai paham keilmuan. Ia cerdik untuk mengelompokkan setiap perbedaan,  karena  seringkali  perbedaan pendapat menjadi sebuah jurang pemisah yang berakhir menjadi permusuhan. Seseorang yang memiliki keilmuan yang tinggi akan digoda dengan keilmuannya sendiri yaitu kesombongan dengan ilmu yang dimilikinya. Karena bisa jadi, perdebatan ilmu itu terjadi karena sudut pandang kecerdasan yang berbeda, maka kaitan ilmu dan iman adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

Pemimpin harus dapat menerima kritikan dari masyarakatnya. Ia pendengar yang baik, mendengarkan setiap masukan. Kritik dan keluhan betapa pun pedasnya kritikan itu, kritikan yang muncul perlu mendapat perhatian untuk sebuah perbaikan di masa yang akan dating. Bukan malah membungkam sang pengritik, dan bersikap responsif dengan tidak membiarkan kondisi yang tak menyenangkan terus berlangsung.

Dr. Nurcholis Madjid dalam bukunya yang berjudul Pintu-pintu Menuju Tuhan mengatakan, “Al-Qur’an dari waktu ke waktu menggugat manusia untuk berpikir, merenung dan menggunakan akalnya. Berpikir adalah sebagian dari petunjuk Allah ke arah iman kepada- Nya. Allah memuji mereka yang berjiwa terbuka, suka mendengarkan pendapat orang lain, kemudian mengikuti mana yang terbaik dari pendapat itu setelah melalui kegiatan berpikir dan pemeriksaan serta pemahaman yang kritis dan teliti.

Bobot pangayun timbang taraju.

Seorang pemimpin yang menolak segala pendapat demi mempertahankan ego dan nafsu kekuasaannya maka dia dapat dikategorikan sebagai pemimpin yang jahiliyah. Jahiliyah adalah suatu kondisi kejiwaan di mana seseorang yang menolak kebenaran. Dengan kata lain, jahiliyah tidak ditentukan oleh tingkat kecerdasan, status kepemimpinan, ketokohan, kecendikiawanan atau sebaliknya. Di sinilah bisa kita mengerti kenapa Abu Jahal disebut Abu Jahal (bapak jahiliyah/kebodohan), padahal ia seorang pemimpin.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

                                                     Al- Mujaadilah : 11

Sementara masih di dalam Sang hyang Siksa Kandang Karesian;

Radja teh teu mudu-mudu teuing pinter, tapi nu mudu mah unyana ngarti, ngarti neuleu bari ngaraksa, ngarti ngarasa tina ngadeuleu, abeh kaharti kunu diaping, bari ngaraksa kunu diraksa.

(Seorang pemimpin tidak harus menguasai segala hal, karena yang lebih diperlukan adalah mengerti segala hal tetapi ia melihat serta merasakan lalu mewujudkan segala apa yang dirasakannya untuk dipahami dalam tindakan sekaligus mengembangkan kearifan yang ada pada dirinya untuk diaplikasikannya pada yang dipimpinnya).

Penting bagaimana pemimpin itu bisa mengerti melihat dan mencermati, mendengar dan menyimak segala gagasan setiap aspirasi dari yang dipimpinnya. Ia menjadi pemandu jalan yang akan membawa dari situasi gelap ke situasi yang terang. Tahu situasi dan paham apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindarinya. Pemimpin adalah seorang orator yang handal dengan ekspresi yang menyenangkan untuk menyampaikan segala sesuatunya sehingga orang- orang takzim dengan kharismanya. Orang-orang tertarik untuk mendengarkan dan mematuhinya. (Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *