Pamingpin nu Masagi (1)

Oleh: Robby Maulana Zulkarnaen

Sanes pedah sugih ku elmu jembar ku pangabisa, sanes pedah jegud pangaweruh tur jembar ku pangarti, sim kuring nyatet tur nyutat ngan saukur ngabayangkeun kacida bagjana saupami tiasa aub jabung tumalapung ngiring merhatoskeun kana pasualan kapamimpinan urang Sunda, nyobian ulubiung tur umajak pikeun ngalarapkeun hiji cara mimpin nu kantos dianggo ku para luluhur urang.

Tentunya dengan tidak bermaksud untuk mengajarkan menjadi seorang pemimpin karena sepertinya kita telah sepakat bahwa pada hakekatnya setiap manusia adalah pemimpin (kholifah fil ardi). Catatan ini disampaikan awalnya terinspirasi oleh pemaparan almarhum Drs. H. Hidayat Suryalaga juga terdorong oleh greget wacana dalam beberapa dialog tentang ketidakpuasan terhadap kepemimpinan baik secara nasional maupun local. Bahkan katanya, kualitas kepemimpinan bangsa ini telah menurun, bangsa ini sedang mengalamai krisis kepemimpinan.

Pemimpin kita telah membawa bangsa ini kehilangan jati dirinya. Lalu seperti apa kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya? Pemimpinnya yang tidak berkualitas atau yang dipimpinnya?

Padahal disisi lain, sejak zaman Orde Lama hingga kini, pelatihan kader kepemimpinan masih tetap dilaksanakan   baik   oleh   lembaga-lembaga   resmi, Ormas, OKP bahkan hampir setiap partai politik dipastikan memiliki agenda ini. Lalu, standar nilai seperti apa sehingga wacana mencari pemimpin masih disuarakan?

Dalam pelatihan leadership yang pernah saya ikuti pada tahun 2006, yang diadakan oleh sebuah lembaga yang cukup dikenal, salah satu pembicaranya menyampaikan bahwa, keberhasilan seseorang pemimpin dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya bisa diukur dengan sejauh mana kemampuan ide-idenya dapat terealisir dengan melibatkan bantuan orang lain, serta efektif tidaknya suatu kepemimpinannya bisa dilihat dari bagaimana bawahannya melaksanakan  perintah tersebut dengan baik.

Pertanyaan saya, lalu bagaimana kalau seandainya ketika perintah itu dilaksanakan tetapi dengan keterpaksaan, bertolak belakang dengan hati nuraninya tetapi tetap dilaksanakan atas kepentingan politis? Bukankah keterpaksaan itu merupakan awal dari ketidakpuasan yang selanjutnya akan melahirkan situasi yang kontradiktif? Karena konotasi perintah adalah kalimat harus yang bermuatan sanksi.

Karena judulnya adalah leadership, saya menangkap bahwa apa yang disampaikan oleh pembicara mengacu pada referensi Barat. Sementara kita adalah orang Timur yang kental dengan nilai-nilai budaya dan agama. Sebuah bangsa yang lebih berpijak pada nilai-nilai rasa bukan logika.

Kalau kita tadi telah sepakat bahwa pada hakekatnya setiap manusia itu adalah kholifah jadi mungkin rasanya bahwa setiap insan manusia juga harus sadar perannya sebagai “pemimpin” yang berarti bahwa ia memiliki tanggung jawab atas kewajibannya bukan mendahulukan haknya.

Didalam kitab Sang hyang Siksa Kandang Karesian yang ditulis pada abad XVI, betapa kepemimpinan Prabu Siliwangi sangat hati-hati dalam melakukan perintah sehingga beliau memberi amanat yang berbunyi parigeung:

“Parigeuing mah ngaranna; bisa nitah bisa miwarang, ja sabda arum wawangi, nya mana hanteu surah nu dipiwarang.”

Arti parigeuing ialah cara memerintah atau menyuruh dengan bahasa yang santun sehingga tidak menimbulkan ketidaksenangan bagi yang diperintahnya). Dengan demikian Parigeuing diartikan bahwa seorang pemimpin harus ahli berkomunikasi dengan masyarakatnya dengan memanfaatkan aspek bahasa rasa.

Catatan yang akan disampaikan di sini tentunya akan lebih menekankan pada kepemimpinan Sunda yang islami. Kedatangan Islam di tanah Sunda begitu sangat diterima karena memiliki nilai-nilai yang sama, sehingga kini Sunda-Islam, Islam-Sunda adalah adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Lir ibarat gula jeung amisna. Bahkan dalam puragabasa, kata Sunah dan Sunda berasal dari kata yang sama-sama mengandung arti fitrah. Sunah yaitu sebuah sistem ketentuan hidup yang harus dijaga kemurniannya dengan takwa yang akan melahirkan kualitas kepemimpinan kholifah fil ardhi. Sunda yaitu sebuah sistem ketentuan hidup yang harus dijaga kemurniannya dengan mewujudkannya dengan makna prilaku yang akan melahirkan “Ratu Adil” pada setiap diri kemanusian.

Dengan merujuk dari hasil beberapa buku-buku budaya, ayat-ayat Al-Qur’an, serta referensi lainnya sebagai bahan perbandingan atau hasil dari obrolan-obrolan sekitar kepemimpinan yang berbudaya, judul Pamimpin nu Masagi (pemimpin yang paripurna) diambil karena kesimpulan dari berbagai sumber dari beberapa tokoh Sunda bahwa pamingpin teh kudu masagi. Pengertian masagi dalam bahasa Sunda adalah sebuah peribahasa yang berarti: siap, lengkap, pantas atau paripurna.

Ada empat faktor catatan yang dimaksud dengan pemimpin nu masagi di sini, yaitu:

Luhung elmuna (tinggi ilmunya),

Jembar budayana (luas serta paham akan budaya),

Panceg agamana (istikamah dalam agamanya),

Rancage gawena (proaktif serta berprestasi dalam pekerjaannya).

(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *